TENGGARONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menekan angka putus sekolah dengan menggandeng berbagai pihak, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah.
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menjelaskan bahwa masih terdapat angka putus sekolah yang cukup tinggi di beberapa wilayah Kukar. Namun pihaknya telah aktif bersinergi dengan Kementerian Agama, pemerintah kecamatan, hingga desa dalam menangani permasalahan ini secara komprehensif.
“Pendekatan yang kami lakukan tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga mengedepankan jalur pendidikan nonformal yang kini menjadi pilihan utama bagi anak-anak yang enggan kembali ke sekolah formal,” jelas Pujianto, Senin (15/9/2025).
Pujianto menyebutkan bahwa di Kukar saat ini terdapat 19 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan 11 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang aktif menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, B, dan C. Dengan total 30 lembaga pendidikan nonformal, Disdikbud memastikan seluruh anak yang putus sekolah dapat terakomodasi untuk melanjutkan pendidikannya.
Langkah yang dilakukan dimulai dari proses verifikasi dan pendataan siswa putus sekolah, hingga pendampingan agar mereka mau kembali belajar sesuai minat dan kondisi masing-masing.
“Tim kami beberapa kali turun ke lapangan untuk melakukan edukasi dan sosialisasi. Namun, tantangan terbesar adalah menumbuhkan kembali motivasi anak-anak agar mau melanjutkan pendidikan,” ungkapnya.
Disdikbud Kukar berkomitmen memperkuat pendekatan humanis dan kolaboratif, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama memperoleh pendidikan layak demi masa depan yang lebih baik.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar tidak ada lagi anak di Kukar yang berhenti sekolah karena faktor ekonomi, sosial, atau kurangnya motivasi,” tutup Pujianto. (as/adv)




