Kamis, Juni 4, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Soroti Kerusakan Mangrove di Teluk Semanting

TANJUNG REDEB – Kondisi hutan mangrove di Kampung Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan, menjadi sorotan DPRD Kabupaten Berau. Kawasan mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami pesisir dilaporkan dalam kondisi memprihatinkan akibat kurangnya perawatan dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Ia menegaskan mangrove bukan sekadar vegetasi di tepi pantai, tetapi merupakan aset ekologis jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan wilayah pesisir di Bumi Batiwakkal.

Menurutnya, kerusakan mangrove sama halnya dengan melemahkan perlindungan alami yang dimiliki daerah pesisir. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat bagi berbagai biota laut sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Kerusakan mangrove sama artinya dengan mengikis perlindungan alami wilayah pesisir. Mangrove adalah rumah bagi ikan, udang, hingga burung migran. Jika habitat ini rusak, maka rantai ekosistem juga ikut terganggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kawasan mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Banyak jenis ikan, kepiting dan udang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat berkembang biak sebelum akhirnya bermigrasi ke laut lepas.

Namun di sisi lain, kawasan pesisir Berau juga menghadapi berbagai ancaman yang berpotensi memperparah kerusakan mangrove. Aktivitas pembalakan liar, reklamasi pesisir hingga pencemaran limbah menjadi faktor yang terus membayangi kelestarian ekosistem tersebut.

Karena itu, Thamrin mendorong Pemerintah Kabupaten Berau untuk mengambil langkah nyata dalam melindungi kawasan mangrove melalui kebijakan yang lebih tegas serta pengawasan yang berkelanjutan.

“Harus ada perlindungan yang serius dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.

Selain berfungsi sebagai habitat biota laut, mangrove juga memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai dari ancaman abrasi dan gelombang tinggi. Akar-akar mangrove yang kuat mampu menahan sedimen sekaligus meredam energi gelombang yang datang dari laut.

READ  Dukung Coworking Space, Berharap Disbudpar Bisa Realisasikan

Tidak hanya itu, mangrove juga memiliki peran besar dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Vegetasi pesisir ini dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam tanah dalam jangka waktu lama.

“Mangrove mampu menyerap karbon dioksida dan menyimpannya dalam tanah. Ini kontribusi besar dalam mengurangi gas rumah kaca,” tambahnya.

Thamrin juga menegaskan kerusakan mangrove tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan semata, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut.

Jika ekosistem mangrove rusak, populasi ikan dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan dapat menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengancam keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir di wilayah Berau, khususnya di kawasan kepulauan.

Karena itu, ia berharap upaya pelestarian mangrove tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat, kelompok nelayan, serta berbagai pihak terkait agar pengelolaan pesisir dapat berjalan lebih berkelanjutan.

“Jika mangrove terjaga dengan baik, maka ekosistem laut juga akan sehat. Pada akhirnya masyarakat pesisir yang akan merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (adv)

BERITA POPULER